15 Juli 2009

Menyimak Arah Koalisi Golkar

Kekalahan Pasangan Jk-Wiranto dalam Pilpres 2009 merupakan pukulan telak bagi partai Golkar. Usai keluarnya hasil Pilpres yang telah dirilis sejumlah lembaga survai, Golkar langung merapatkan barisan, untuk kemudian membuat kebijakan terbaru mengenai sikap politik partai tersebut. Sikap yang sering diperdebatkan adalah tentang apakah Golkar akan tetap beroposisi bersama PDIP, Hanura dan Gerindra ataukah justru sebaliknya, akn ikut bergabung dengan Partai Penguasa.

Banyak hal yang perlu dicermati dari sikap pokitik Golkar ini. Dari intern Golkar sendiri memang ada beberapa pihak yang menginginkan kembali merapat ke Demokrat sebagai partai penguasa. Kalangan pendukung ini kebanyakan berasal darim tokoh Golkar yang dalam lima tahun belakangan menjadi pejabat public. Msalahnya apakah keinginan ini juga akan disetujui oleh tokoh lainnya. Memang dalam sejarah Golkar, Golkar tidak memiliki track record sebagai oposisi. Hal itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan Partai Golkar.

Dari sisi Demokrat dan koalisinya, apakah gagasan untuk menarik Partai Golkar untuk ikut bergabung, akan mmberi pengaruh positif bagi koalisi Demokrat serta bagi kehidupan politik nasional ? Belum diputuskan saja sudah ada partai koalisi yang menyatakan menolak, bagaimana kedepannya, apakah dapat bekerja sama ?

Di dalam kehidupan politik di Indonesia, memang kehidupan demokrasinya tidak sebagis di Negara-negara maju yang jauh lebih mapan. Namun perlu satu sikap politik yang realistis yang harus ditunjukkan oleh Partai Golkar. Mengapa harus realistis ? Pertama kita cermati sejarah ketika JK mengambil keputusan untuk maju sebagai Capres. Secara tidak langsung, JK dan Golkar merasakan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintahan saat itu. Maka dia mengambil sikap untuk memperbaiki serta melanjutkan apa yang telah dilakukan SBY selaku Presiden kala itu. Kalau kemudian setelah kalah dalam Pilpres, kemuian Golkar ingin kembali bergabung dengan penguasa, apakah tidak malah menjadi lucu ? Apakah nanti tidak akan menuai kecaman karena tidak konsisten dengan keputusannya ?

Kalau kita cermati lebih jauh tentang komposisi kursi di parlemen, apabila Golkar bergabung dengan penguasa, bukankah akan semakin “Gemuk” jumlah kursi di Parlemen. Kalau seperti ini apakah kemudian bagus bagi kehidupan demokrasi kita ?



0 komentar:

Poskan Komentar

Ayo... Kirimkan Opinimu !!!
Caranya :
1. Tulis opini pada kolom komentar
2. Pilih 'name/url' pada pilihan "beri komentar sebagai".
3. Isi nama dan url (alamat blog/situs pribadi atau kosongkan).
4. Klik "lanjutkan"
5. Klik "poskan komentar"